Laporan Pendampingan Upsus Pajale 2015

LAPORAN AKHIR

PROGRAM UPSUS PAJALE (UPAYA KHUSUS PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI)



DESA : SUMBER LOR DAN KUDUKERAS
KECAMATAN BABAKAN
KABUPATEN CIREBON




Oleh:

Kridanto Priyo Digdo

A24120118


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2015


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir program upaya khusus peningkatan produktivitas padi jagung dan kedelai. 

Ucapan terimakasih terutama penulis haturkan kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam melaksanakan program ini yaitu Kementan, Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, BP3K, UPTD Pertanian, dosen pendamping lapang, dan PPL atas kerjasamanya yang sangat solid. Selanjutnya ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga penulis sampaikan kepada para ketua kelompok tani, para petani, perangkat desa, babinsa dan pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. 

Program upaya khusus ini tidak akan dapat berjalan tanpa adanya kerjasama seluruh pihak terkait. Bagaimanapun, petani adalah pelaksana utama program ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi yang besar kepada para petani. dalam upaya peningkatan produktivitas tanaman pangan ini, masyarakat petani perlu mendapatkan perhatian yang lebih besar lagi daripada sebelumnya. bantuan-bantuan dari pemerintah terhadap para petani yang bersungguh-sungguh mengikuti program pmerintah perlu diberikan dan dipastikan agar dapat sampai tepat waktu, kondisi, dan sasaran. 

Penulis berharap, agar program ini dapat bermanfaat bagi masyarakat petani Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras khususnya dan para petani indonesia secara umum. Saya menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan ataupun penulisan laporan akhir ini. Saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari pembaca sekalian. Terimakasih. 

Bogor, September 2015 



Kridanto Priyo Digdo


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Undang-Undang Pangan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2012 menyatakan bahwa penyelenggaraan pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan ketahanan pangan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. 

Dalam rangka mencapai ketahanan pangan tersebut, negara harus mandiri dan berdaulat dalam menentukan kebijakan pangannya sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya. Sebagai upaya mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan tersebut, Kementerian Pertanian menjabarkan melalui kebijakan pembangunan pertanian dalam program “swasembada padi, jagung dan kedelai”. 

Program tersebut diharapkan dapat dicapai pada tahun 2017 dengan target produksi tahun 2015 untuk sebesar padi 73.4 juta ton, jagung 20 juta ton dan kedelai 1.2 juta ton. Target produksi tersebut dapat dicapai dengan cara menetapkan upaya khusus peningkatan produksi dengan kegiatan antara lain : rehabilitasi jaringan irigasi tersier, penyediaan alat dan mesin pertanian, penyedia dan penggunaan benih unggul, penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang, pengaturan musim tanam dengan menggunakan kalender musim tanam, dan pelaksanaan proram gerakan penerapan pengelolaan tanaman terpadu (GPPTT). 

Kegiatan tersebut dapat terimplementasi dengan bantuan tenaga pendamping yang berpartisipasi aktif dalam membantu peningkatan kinerja penyuluh pertanian di daerah yang berpotensi sebagai penyedia pangan nasional. Oleh karena itu, peningkatan produksi pangan di daerah tersebut dilakukan dengan proram-program yang mendukung tercapainya swasembada padi, jagung dan kedelai tahun 2017. Salah satu daerah yang memiliki potensi tersebut adalah Kabupaten Cirebon.

Tujuan

1. Memberikan petunjuk dan acuan pelaksanaan pengawalan dan pendampingan secara terpadu upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai 
2. Meningkatkan kinerja penyuluh pertanian, mahasiswa, dan babinsa dalam melakukan pengawalan dan pendampingan secara terpadu kepada para petani dalam upaya pencapaian swasembada secara berkelanjutan
3. Meningkatkan produksi dan produktivitas dalam pencapaian swasembada berkelanjutan padi, jagung, dan kedelai 

Manfaat

Meningkatkan efektivitas pelaksanaan program peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai dalam program pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. 
PELAKSANAAN KEGIATAN 

Waktu dan Tempat

Program Program ini dilaksanakan pada tanggal 30 Juni hingga 20 Agustus 2015 di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon.

Macam Kegiatan 

1. Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) 

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) hanya terdapat di wilayah Desa Sumber Lor sedangkan Desa Kudukeras tidak ada kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT). Jaringan irigasi tersier yang direhabilitasi sepanjang 408,96 meter dapat mengairi 48 Ha sawah. Permasalahan lain terkait pasokan air adalah ketersediaan air irigasi yang sangat terbatas saat musim kemarau sehingga rawan kekeringan. 

2. Penyediaan Alat dan Mesin (Alsintan) 

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Jumlah keseluruhan alat dan mesin pertanian di Desa Sumber Lor adalah hand traktor sebanyak 30 buah, pompa air sebanyak 30 buah, power tresher sebanyak 1 buah, pedal tresher 1 buah, dan power sprayer 2 buah. Sedangkan jumlah keseluruhan alat dan mesin pertanian di Desa Kudukeras adalah hand traktor sebanyak 10 buah dan pompa Air 50 buah. Jumlah ini mencakup baik dari milik pribadi petani maupun bantuan pemerintah. 

3. Penyediaan dan penggunaan benih unggul 

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Penyediaan dan penggunaan benih unggul di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras berupa benih padi varietas unggul untuk musim tanam satu (MT 1). Tahun 2015 ini rencananya bantuan benih akan diberikan kepada kelompok tani Sumber Rejeki I, Sumber Rejeki II, dan Sumber Rejeki III Desa Sumber Lor serta kelompok tani Tani Mulya I dan Tani Mulya II Desa Kudukeras. Bantuan benih yang akan diberikan tersebut berupa benih padi varietas Mekongga sebanyak 625 kg untuk setiap kelompok tani dan digunakan untuk penanaman bulan November 2015. 

Selama ini penyaluran bantuan benih dari pemerintah sudah tepat waktu karena diberikan ke masing-masing kelompok tani sebelum petani mulai menyemai benih. Bantuan benih unggul yang diberikan juga selalu digunakan oleh petani karena dapat menurunkan biaya produksi. Permasalahan lainnya adalah tidak adanya bantuan benih untuk musim tanam dua (MT 2), kuantitas bantua benih yang masih kurang sehingga penyediaannya harus digilir antar kelompok tani setiap tahunnya dan terkadang varietas serta kualitas benih masih belum sesuai dengan keinginan dari petani. 

4. Penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang 

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang dilakukan dengan pemberian bantuan Pupuk Organik kepada kelompok tani secara bergilir setiap tahunnya. Pada tahun 2014 bantuan Pupuk Organik yang diberikan sebanyak 6,000 kg untuk kelompok tani Sumber Rejeki III Desa Sumber Lor yang digunakan untuk musim tanam 1 (MT 1). Permasalan yang terjadi adalah penggunaan bantuan yang kurang tepat oleh petani yaitu Pupuk Organik yang seharusnya digunakan sebagai pupuk dasar padi lebih sering digunakan sebagai penutup benih saat menanam jagung manis. 

5. Pengaturan musim tanam dengan Kalender Tanam

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Kalender Tanam (KATAM) telah disosialisasikan oleh petugas penyuluh lapangan (PPL) ke seluruh petani yang ada di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras dan sebagian besar petani telah menerapkannya. KATAM untuk Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras adalah November – Maret untuk musim tanam 1 atau rendengan dan bulan April – Agustus untuk musim tanam 2. 

6. Pelaksanaan program GPPTT

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Program GPPTT dilaksanakan di Desa Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras pada Bulan November tahun 2014 namun masih dengan nama SLPTT. Program yang dilaksanakan di kedua desa tersebut masing-masing dengan luas tanam dan luas panen 50 Ha. Provitas yang dicapai di Desa Sumber Lor adalah 7,39 ton/ha dan di Desa Kudukeras adalah 7,08 ton/ha. 

7. Perluasan Areal Tanam (PAT) jagung dan kedelai 

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : 30 Juni – 30 Agustus 2015 

Program Perluasan Areal Tanam (PAT) jagung dan kedelai tidak dilaksanakan baik di Desa Sumber Lor maupun Desa Kudukeras dan secara umum di Kecamatan Babakan tidak ada program PAT jagung dan kedelai. 

8. Peningkatan Optimalisi Lahan (POL) 

Tempat : Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras Kec. Babakan Cirebon 

Waktu : - 

Program POL tidak dilaksanakan di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras namun di Kecamatan Babakan program POL dilaksanakan di Desa Gembongan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras merupakan desa yang berada di wilayah Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat. Kecamatan Babakan termasuk kedalam kategori dataran rendah karena berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Secara umum kegiatan ekonomi utama masyarakat di Desa Sumber Lor adalah petani, sedangkan masyarakat Desa Kudukeras adalah wirausaha. Jumlah petani di Desa Sumber Lor adalah 2043 KK dengan luas lahan sawah seluas 116 Ha yang keseluruhannya berupa lahan sawah irigasi teknis. Banyaknya jumlah petani di Desa Sumber Lor menyebabkan masyarakat petani Desa Sumber Lor mempunyai lahan pertanian yang tersebar hingga ke wilayah desa lain. Jumlah petani di Desa Kudukeras adalah 845 KK dengan luas lahan sawah seluas 96 Ha yang terdiri dari 79 Ha sawah irigasi teknis dan 17 Ha sawah irigasi setengah teknis. 

Berdasarkan kondisi fisik, sosial budaya, dan ekonomi kedua desa tersebut sesuai unyuk kegiatan pengembangan di bidang pertanian. Hal ini disebabkan karena keberadaan hamparan lahan pertanian yang mendominasi keruangan Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras. Kegiatan pertanian di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras didominasi oleh pertanian beberapa komoditas tanaman yaitu padi, jagung manis, bawang merah, dan tebu. Hal ini disebabkan oleh kondisi topografi kedua desa tersebut yang teletak di dataran rendah. Komoditas–komoditas tersebut dikembangkan hampir di tiap-tiap blok lahan sawah kedua desa tersebut. Dalam bidang peternakan, jenis ternak banyak diusahakan oleh masyarakat antara lain adalah sapi, kerbau, domba, serta unggas.


Produktivitas padi di Desa Summber Lor dan Desa Kudukeras secara umum telah tergolong cukup tinggi. Rata–rata produktivitas padi sawah di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras adalah lebih dari 6 ton/Ha. Berdasarkan wawancara dengan petani varietas yang sebagian besar digunakan oleh para petani adalah varietas Ciherang dan Mekongga. Untuk padi varietas IR 64 telah jarang digunakan oleh petani setempat karena dianggap lebih rentan terhadap hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens). Pola tanam yang biasa digunakan oleh petani di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras adalah padi-padi-jagung manis. Namun pada saat musim kemarau ini semakin banyak petani yang lebih memilih untuk memberakan lahannya untuk menunggu musim tanam padi di musim penghujan karena kendala kekeringan yang sering melanda saat musim kemarau.
Gambar 1. Lahan jagung manis setelah padi
Gambar 2. Lahan bekas padi yang diberakan
Hama dan penyakit utama yang sering menyerang tanaman padi di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras adalah hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada saat musim kemarau, penyakit potong leher (Pyricularia oryzae) pada saat musim penghujan, hama penggerek batang/sundep (Scirpophaga incertulas) pada saat musim tanam, dan hama tikus serta burung pada saat musim panen.

Gambar 4. Wereng batang coklat
Hama wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) menjadi permasalahan utama saat kegiatan pendampingan ini berlangsung. Berdasarkan survey dan pengamatan yang telah dilakukan ke beberapa desa di sekitar wilayah Kecamatan Babakan seperti Desa Cangkuang, Serang Wetan, dan Gembongan, terdapat wilayah-wilayah yang telah mengalami serangan hama wereng batang dengan intensitas serangan yang cukup tinggi bahkan hingga menyebabkan petani mengalami kerugian ekonomi, beberapa petani bahkan memilih untuk memanen padi mereka lebih awal untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

Gambar 4. Salah satu petani yang mengalami kerugian akibat hama wereng
Wereng batang coklat, sebagaimana jenis wereng lainnya, menjadi parasit dengan menghisap cairan tumbuhan sehingga mengakibatkan perkembangan tumbuhan menjadi terganggu bahkan mati. Nimfa dan imago menusukkan alat mulutnya yang berbentuk jarum ke dalam jaringan tanaman dan mengisap cairan dari bagian floem. Pada keadaan populasi wereng yang tinggi, serangan menyebabkan tanaman padi mengering seperti terbakar yang disebut hopperburn. Sawah yang menjelang panen dapat mengalami hopperburn bila dijumpai 400-500 nimfa per rumpun. Penyebab dedakan wereng batang cokelat umumnya terkait dengan penaman padi yang terus menerus dan tidak serentak, pemupukan yang berlebihan, serta penggunaan insektisida yang membunuh musuh alami.
Gambar 5. Perbandingan antara tanaman yang sehat dengan yang terserang WBC
Umumnya petani melakukan tindakan pengendalian secara kimiawi dengan penyemprotan pestisida yang banyak tersedia di kios pertanian setempat. Permasalahan yang terjadi adalah seringkali hama wereng batang coklat bersifat resisten terhadap berbagai insektisida, sehingga para petani biasa memberikan dosis insektisida yang berlipat ganda bahkan dengan mengoplos beberapa merk dagang insektisida sekaligus. Permasalahan lain yang dijumpai di lapangan adalah masih kurangnya pemahaman petani mengenai prinsip 6 Tepat aplikasi pestisida yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat sasaran, tepat cara, tepat waktu, dan tepat mutu sehingga tindakan pengendalian menjadi kurang efektif. Hal ini terus diupayakan solusinya oleh Petugas Penyuluh Lapang (PPL) dan Petugas Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) setempat dengan melakukan penyuluhan secara intensif.

Gambar 5. Penyuluhan lapang bersama petani, mahasiswa, PPL dan POPT
Berdasarkan pengamatan dari segi teknologi budidaya, baik petani di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras telah banyak yang mulai menerapkan sistem tanam jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo yang sering digunakan adalah jajar legowo 2:1 dan 4:1. Manfaat penggunaan sistem jajar legowo sangat dirasakan oleh petani antara lain adalah meningkatnya produktivitas padi, kemudahan dalam pemupukan dan penyemprotan pestisida. Permasalan yang dihadapi dalam penerapan teknik jajar legowo ini adalah masih sulitnya mencari buruh tanam yang mau menanam dengan sistem jajar legowo karena buruh jasa tanam yang lebih menyukai teknik tanam konvensional (persegi). 

Gambar 7. Contoh lahan petani dengan istem jajar legowo
Introduksi teknologi budidaya lain yang masih kurang mendapat tanggapan positif dari petani adalah pengembalian jerami ke lahan. Petani lebih sering membakar jerami sisa panen mereka sehingga pembakaran jerami setelah panen merupakan kebiasaan umum dari petani baik di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras.

Gambar 8. Kegiatan pembakaran jerami di lahan
Selain itu kebiasan unik yang biasa dilakukan oleh para petani di Desa umber Lor adalah cara panen padi yang lebih senang dilakukan dengan cara panen atas. Cara panen atas ini dilakukan dengan memotong malai padi kemudian merontokkannya dengan alat pemukul. Secara teoritis, cara ini menyebabkan angka kehilangan hasil panen yang relatif lebih tinggi pada pada padi dibandingkan cara panen bawah. Sebenarnya para petani telah mengetahui kerugian dari cara panen atas, namun mereka tetap menggunakannya karena cara panen atas ini telah menjadi tradisi dan ciri khas yang melekat pada petani Desa Sumber Lor.

Gambar 9. Sistem panen atas
Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras merupakan desa di Kecamatan Babakan Timur yang mendapatkan program UPSUS PAJALE yang dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan, antara lain adalah rehabilitasi jaringan irigasi, pendataan ketersediaan alat dan mesin pertanian, penyediaan dan penggunaan benih unggul, penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang, pengaturan musim tanam dengan kalender musim tanam, dan pelaksanaan program GPPTT.

1. Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) 

Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) hanya terdapat di wilayah kerja Desa Sumber Lor sedangkan Desa Kudukeras tidak ada kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT). Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) Desa Sumber Lor dilaksanakan di Blok Rengas yang merupakan wilayah kelompok tani Sumber Rejeki I. Jaringan irigasi tersier yang direhabilitasi sepanjang 408,96 meter. Luas sawah yang dapat diairi oleh jaringan irigasi tersier tersebut adalah 52 hektar yang tersebar di lahan sawah wilayah Blok Rengas dan Blok Bleng Desa Sumber Lor. Nama lain dari RJIT di Kecamatan Babakan adalah Pengembangan Jaringan Irigasi Pedesaan. Pelaksanaan Dana yang digunakan untuk kegiatan RJIT ini berasal dari APBN sebesar Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah). 
Kondisi jaringan irigasi tersier yang direhabilitasi tersebut bagus dan kokoh. Namun manfaat dari kegiatan ini dirasa masih kurang karena kurangnya pasokan atau ketersediaan air. Kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) Desa Kudukeras belum dilaksanakan tahun 2015 ini, namun rencananya akan dilaksanakan tahun 2016 mendatang karena kegiatan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier ini dilakukan dengan sistem bergilir antar desa setiap tahunnya agar pembangunannya merata. 

Bantuan lain yang terkait dengan sarana irigasi lainnya adalah bantuan irigasi tanah dangkal atau lebih dikenal oleh petani sebagai sumur pantek. Pada tahun 2014 Desa Sumber Lor medapat bantuan sebanyak 2 buah sumur pantek yang diberikan kepada Kelompok Tani Sumber Rejeki I dengan lokasi Blok Bleng Desa Sumber Lor. Pada tahun 2015 ini bantuan sumur pantek diberikan kepada Desa Kudukeras sebanyak 1 buah melalui Kelompok Tani Tani Mulya II. Bantuan irigasi tanah dangkal ini sangat bermanfaat bagi petani khususnya dalam menghadapi musim kemarau sehingga petani tetap daat mengusahakan lahannya, namun dari segi jumlah dirasa masih kurang mencukupi. 
Gambar 12. Sumur pantek di Desa Kudukeras
Gambar 13. Sumur pantek di Desa Sumber Lor
Masalah yang secara umum terjadi di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras terkait dengan irigasi pertanian adalah kurangnya pasokan air irigasi khususnya saat musim kemarau. Hal ini menyebabkan terjadinya ancaman kekeringan yang dapat menurunkan produksi padi saat musim tanam kedua (Bulan April-Agustus). Selain itu kurangnya pasokan air irigasi juga menyebabkan petani tidak dapat menanam komoditas padi sepanjang tahun dan lebih memilih untuk menanam komoditas palawija atau memberakan lahan mereka untuk menunggu musim rendengan (penghujan) datang yang umumnya jatuh antara Bulan November.

Gambar 14. Tanaman padi yang menunjukkan gejala kekeringan
Kurangnya pasokan air irigasi ini secara umum disebabkan oleh jauhnya sumber mata air yang berlokasi di Kabupaten Kuningan tepatnya dari Waduk Darma. Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut salah satunya adalah dengan membangun sarana konservasi air untuk pertanian misalnya waduk atau embung di wilayah Kabupaten Cirebon sehingga pasokan air irigasi saat musim kemarau tidak selalu mengandalkan dari wilayah kabupaten lain. Kurangnya pasokan air irigasi di Desa Kudukeras dan Sumber Lor juga disebabkan oleh penggunaan air irigasi yang lebih diutamakan untuk keperluan Pabrik gula yang berlokasi di Kecamatan Babakan saat musim buka giling yang bertepatan dengan musim kemarau. Selain itu penggunaan air irigasi juga relatif banyak untuk komoditas lain selain padi yaitu bawang merah yang membutuhkan pengairan secara rutin. 

Gambar 15. Komoditas bawang merah
Masalah khusus berkaitan dengan irigasi pertanian terjadi di wilayah Blok Prigi dan Blok Bleng Desa Sumber Lor. Blok Prigi mempunyai luas lebih dari 50 hektar yang termasuk dalam wilayah kelompok tani Sumber Rejeki III dan Sumber Rejeki IV Desa Sumber Lor. Blok Bleng mempunyai luas 27 hektar yang termasuk dalam wilayah kelompok tani Sumber Rejeki I Desa Sumber Lor. Permasalahan utama yang terjadi di Blok Prigi dan Blok Bleng adalah letak kedua blok tersebut yang lebih tinggi daripada jaringan irigasi sekunder sehingga penyediaan air irigasinya sangat mengandalkan pompa air untuk menaikkan air dari jaringan irigasi sekunder ke jaringan irigasi tersier.

Gambar 16. Blok Prigi Desa Sumber Lor
Blok Prigi mempunyai 3 buah pompa besar (25 pk) namun 1 buah pompa telah rusak dan 1 buah pompa yang hanya difungsikan saat musim penghujan (rendengan), oleh karena itu saat musim kemarau pasokan air yang bisa diperoleh di wilayah Blok Prigi sangat terbatas karena hanya mengandalkan 1 buah pompa dengan kondisi yang sudah tua dan sering mati atau rusak apabila terlalu lama digunakan. Hal ini sangat memberatkan bagi petani dalam bercocok tanam di musim kemarau sehingga banyak petani yang lebih memilih untuk memberakan lahan mereka. Untuk beberapa petani yang tetap bercocok tanam mereka mengatasi hal tersebut dengan cara memompa dengan pompa air yang lebih kecil milik pribadi, namun hal ini dapat memberatkan petani karena menambah biaya input produksi usaha tani. 
Gambar 16. Pompa air yag terdapat di Blok Prigi
Rekomendasi solusi dapat dilakukan untuk permasalahan tersebut antara lain adalah dengan pembaruan pompa air yang sudah tua dan rusak. Pembaruan pompa tersebut sebaiknya juga disertai dengan pembangunan rumah pompa permanen agar pompa air tersebut aman dan tidak dipindah-pindah sehingga dapat meminimalisir kerusakan. Selain itu juga perlu dilakukan pembangunan jembatan air yang berfungsi mengalirkan air irigasi dari Blok lain ke Blok Prigi sehingga air yang biasanya langsung mengalir ke saluran pembuangan dapat dimanfaatkan oleh petani di wilayah Blok Prigi.

Hal yang hampir serupa juga dialami di wilayah Blok Bleng yang hanya mengandalkan 1 buah pompa besar untuk menaikkan air. Pompa air tersebut telah ada sejak tahun 2010, saat ini kondisinya sudah tua sehingga perlu diertimbangkan untuk pengadaan pompa air besar yang baru. Berbeda dengan wilayah Blok Prigi, di wilayah Blok Bleng telah memiliki jembatan air sehingga pasokan air irigasinya lebih baik, disamping luas lahannya yang tidak seluas wilayah Blok Prigi dan telah terdapat bantuan sumur pantek.

Gambar 16. Blok Bleng Desa Sumber Lor
Gambar 16. Pompa air yag terdapat di Blok Bleng

2. Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) 

Jumlah keseluruhan alat dan mesin pertanian di Desa Sumber Lor adalah hand traktor sebanyak 30 buah, pompa air sebanyak 30 buah, power tresher sebanyak 1 buah, pedal tresher 1 buah, dan power sprayer 2 buah. Sedangkan jumlah keseluruhan alat dan mesin pertanian di Desa Kudukeras adalah hand traktor sebanyak 10 buah dan pompa Air 50 buah.Jumlah ini mencakup baik dari milik pribadi petani maupun bantuan pemerintah. 
Gambar 18. Salah satu pompa air milik petani
Khusus untuk penyedian bantuan alsintan di Desa Sumber Lor diberikan melalui kelompok tani, yaitu terdapat 2 buah traktor yang masing-masing diberikan kepada kelmpok tani Tani Mulya I dan Tani Mulya II. Alsintan yang diberikan tersebut masih berfungsi dan selalu digunakan oleh para petani dalam kegiatan produksi. Biaya penggunaan traktor bantuan tersebut lebih murah daripada menyewa traktor biasa karena hanya dipatok biaya untuk tenaga operator dan solar saja. Namun permasalahan yang terkait penyediaan alsintan adalah penyedian alsintan belum dapat mencakup keseluruhan petani di Desa Sumber Lor sehingga pemakaiannya harus secarabergiliran. 

Menurut hasil wawancara dengan para ketua kelompok tani dan PPL serta hasil survey langsung di lapangan perlu adanya penambahan alsintan karena penambahan bantuan alsintan ini akan memperlancar kegiatan produksi petani di sawah dan tidak adanya keterlambatan penanaman yang disebabkan penggunaan alsintan saling bergantian dengan petani lainnya. Selain itu perlu adanya bantuan mesin pemanen baik itu treasher maupun combine harvester untuk memperkenalkan teknologi mekanisasi pemanenan kepada para petani sehingga dapat memperkenalkan teknologi yang dapat meningkatkan efisiensi pemanenan dan menekan kehilangan hasil saat panen. Hal ini mengingat sebagian besar petani masih menerapkan sistem panen atas pada padi yang mempunyai potensi kehilangan hasil cukup besar. 

3. Penyediaan dan penggunaan benih unggul 

Penyediaan dan penggunaan benih unggul di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras secara rutin diberikan setiap tahunnya yaitu berupa benih padi untuk musim tanam satu (MT 1) dan penyalurannya sudah tepat waktu karena diberikan ke masing-masing kelompok tani sebelum petani mulai menyemai benih namun penyalurannya dilakukan secara bergilir ke setiap kelompok tani karena jumlah bantuan yang terbatas. Varietas benih padi bantuan yang diberikan adalah Ciherang dan Mekongga. Bantuan benih unggul yang diberikan tersebut selalu digunakan oleh petani karena dapat menurunkan biaya produksi. 

Permasalahan yang terkait dengan penyedian bantuan benih unggul adalah tidak adanya bantuan benih untuk musim tanam dua (MT 2), dan terkadang varietas serta kualitas benih kadang-kadang masih belum sesuai dengan keinginan dari petani. Menurut kondisi di lapangan sebaiknya bantuan benih padi tidak hanya diberikan saat MT 1 saja namun juga MT 2, dengan varietas IR 64 karena karakteristik padi IR 64 yan umurnya lebih pendek sehingga dapat mempercepat pemanenan dan menghindari resiko kekeringan saat kemarau panjang. Kualitas benih bantuan juga sebaiknya lebih ditingkatkan misalnya dengan pemberian bantuan benih hasil produksi pabrik Sang Hyang Seri. 

4. Penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang 

Penyediaan dan penggunaan pupuk berimbang dilakukan dengan pemberian bantuan Pupuk Organik kepada kelompok tani secara bergilir setiap tahunnya. Pada tahun 2014 bantuan Pupuk Organik yang diberikan sebanyak 6,000 kg untuk kelompok tani Sumber Rejeki III Desa Sumber Lor yang digunakan untuk musim tanam 1 (MT 1). Permasalan yang terjadi adalah penggunaan bantuan yang kurang tepat oleh petani yaitu Pupuk Organik yang seharusnya digunakan sebagai pupuk dasar padi lebih sering digunakan sebagai penutup benih saat menanam jagung manis yang merupakan komoditas utama selain Padi di Desa Sumber Lor. 

Bantuan pupuk anorganik seperti Urea, NPK, dan SP 36 hanya diberikan terbatas pada lahan-lahan yang dijadikan lahan percontohan untuk SLPTT tahun 2014. Untuk mencukupi kebutuhan pupuk tersebut para petani membelinya di kios pertanian resmi yang mempunyai wilayah pemasaran di masing-masing desa. Menurut hasil survey baik kepada para petani dan pemilik kios pertanian, penyaluran pupuk bersubsidi umumnya lancar setiap musimnya. Walaupun kadang-kadang pernah juga terjadi kelangkaan pupuk di Desa Sumber Lor, hal ini dipicu karena banyak petani Desa Sumber Lor yang mempunyai lahan pertanian di luar desa namun mereka lebih memilih membeli pupuk di kios Desa Sember Lor dengan alasan lebih efektif dan efisien dari segi waktu sehingga menyebabkan stok pupuk bersubsidi untuk Desa Sumber Lor sendiri menjadi menipis. 

Permasalahan lainnya adalah petani belum menggunakan sistem pemupukan Urea berdasarkan BWD (Bagan Warna Daun) sehingga petani cenderung mengaplikasikan pupuk Urea dengan dosis tinggi. Hal ini tentu berdampak buruk bagi lingkungan dan dapat menyebabkan tanaman padi menjadi lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. 

5. Pengaturan musim tanam dengan Kalender Tanam

Kalender Tanam (KATAM) telah disosialisasikan oleh petugas penyuluh lapangan (PPL) ke seluruh petani yang ada di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras dan sebagian besar petani telah menerapkannya. KATAM Padi untuk Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras adalah November – Maret untuk musim tanam 1 atau rendengan dan bulan April – Agustus untuk musim tanam 2 atau Gadu 1. Berdasarkan hasil wawancara kepada petani terdapat beberapa petani yang tidak mengikuti KATAM dan lebih memilih waktu tanam yang agak terlambat karena mereka beranggapan bahwa apabila menanam padi paling awal maka kemungkinan terserang hama dan penyakit lebih besar. 

Permasalah yang dihadapi dalam penerapa Kalender Musim Tanam adalah kondisi cuaca dan iklim yang semakin sulit diprediksi dan diantisipasi sehingga jadwal musim tanam berdasarkan kalender musim tanam tersebut dapat berubah-ubah setiap tahunnya. 

6. Pelaksanaan program GPPTT

Program GPPTT dilaksanakan di Desa Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras pada Bulan November tahun 2014 namun masih dengan nama SLPTT. Program yang dilaksanakan di kedua desa tersebut masing-masing dengan luas tanam dan luas panen 50 Ha. Provitas yang dicapai di Desa Sumber Lor adalah 7,39 ton/ha dan di Desa Kudukeras adalah 7,08 ton/ha. Program ini mendapat respons positif dari para petani karena dapat memberikan contoh nyata teknologi peningkatan produktivitas padi sehingga petani dapat mempraktekkan sendiri teknologi tersebut di lahan milik mereka sendiri. Beberapa teknologi yang disosialisasikan dalam program SLPTT ini adalah prinsip pemupukan berimbang, konsep pengendalian hama terpadu, dan sistem jarak tanam jajar legowo. 

7. Perluasan Areal Tanam (PAT) jagung dan kedelai

Program Perluasan Areal Tanam (PAT) jagung dan kedelai tidak dilaksanakan baik di Desa Sumber Lor maupun Desa Kudukeras dan secara umum di Kecamatan Babakan tidak ada program PAT jagung dan kedelai. Hal ini karena kondisi sosial ekonomi petani yang kurang berminat dalam menanam komoditas jagung dan kedelai. Berdasarkan hasil survei kepada para petani, beberapa alasan yang menyebabkan mereka kurang berminat menanam komoditas jagung yaitu umur panennya yang panjang, perlu adanya tindakan pasca panen (pengeringan dan pemipilan) yang dapat menambah kebutuhan HOK, dan pangsa pasar serta harga yang belum jelas dan stabil. Sedangkan alasan yang menyebabkan mereka kurang berminat menanam komoditas kedelai yaitu produksinya yang rendah serta lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. 

Petani di Desa Sumber Lor dan Kudukeras lebih memilih untuk menanam komoditas jagung manis atau bawang merah di lahan mereka sebagai komoditas unggulan disamping padi. Menurut para petani keunggulan jagung manis dibandingkan dengan jagung pipil adalah umur panennya lebih pendek, dapat dipanen 2 kali dalam bentuk baby corn, serta pasar dan harga yang relatif lebih terjamin. 

8. Peningkatan Optimalisi Lahan (POL) 

Program POL tidak dilaksanakan di Desa Sumber Lor dan Desa Kudukeras namun di Kecamatan Babakan program POL dilaksanakan di Desa Gembongan 

KESIMPULAN DAN SARAN 

Kesimpulan

Kegiatan UPSUS PAJALE memberikan petunjuk dan acuan pelaksanaan pengawalan serta pendampingan secara terpadu upaya khusus peningkatan produksi padi, jagung, dan kedelai untuk mencapai swamsembada pangan. Desa Sumber Lor dan Kudukeras mendapatkan kegiatan UPSUS PAJALE berupa RJIT, bantuan alsintan, bantuan benih unggul, bantuan pupuk berimbang, dan penggunaan KATAM. Permasalahan utama yang terdapat di kedua desa tersebut adalah terbatasnya pasokan air saat musim kemarau. 

Saran

Pelaksanaan program UPSUS PAJALE sebaiknya tetap melihat potensi wilayah masing-masing daerah. Hal ini karena setiap daerah mempunyai potensi yang berbeda-beda terkait dengan pengembangan komoditas pertanian. Selain itu program UPSUS PAJALE sebaiknya juga berfokus pada kesejahteraan para pelaku usaha di bidang pertanian utamanya para petani dan buruh tani. Hal ini karena petani merupakan ujung tombak dalam penyediaan pangan negara dan mereka juga mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan kesejahteraan. Peran dan jasa para penyuluh pertanian pun sebaiknya tidak dipandang sebelah mata oleh pemerintah karena para penyuluh berada di garda terdepan dalam mensukseskan upaya peningkatan produksi pertanian dan sekaligus berperan sebagai jembatan penghubung dalam diseminasi inovasi teknologi budidaya kepada para petani. Selain itu perlu diadakannya demfarm sebagai percontohan penerapan teknologi dari pemerintah dan perguruan tinggi sehingga dapat menjadi bukti nyata bagi para petani yang umumnya masih sulit menerima hal baru.



Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Laporan Pendampingan Upsus Pajale 2015"

  1. saya adalah salah satu dari sekian banyak yang melaksanakan pendampingan terhadap program UPSUS PAJALE, terimakasih sudah share tentang UPSUS PAJALE dari Cirebon, saya melaksakan pendampingan di jawa tengah kabupaten wonosobo, kendala yang saya temui juga sama yaitu bantuannya yang turun seperti ALSINTAN menurut saya tidak tepat sasaran dan tidak spesifik lokasi, mungkin lebih di perhatikan dan kesejahteraan pelaku usaha pertanian. terimakasih

    ReplyDelete