Ekologi Tanaman Kelapa

Faktor Lingkungan Ekologi Kelapa


Iklim dan tanah merupakan faktor yang sangat menentukan terhadap pertumbuhan dan produksi kelapa. Kelapa tumbuh dan berproduksi tinggi di daerah tropis, namun demikian untuk menjamin produksi tinggi persyaratan iklim harus dipenuhi. Faktor iklim yang paling berpengaruh adalah curah hujan. Tanaman kelapa mempunyai adaptasi yang luas terhadap keragaman tanah, dapat tumbuh di tanah dengan kandungan pasir tinggi sampai liat tinggi. Untuk memperoleh produksi tinggi, kelapa harus ditanam pada daerah yang memenuhi persyaratan iklim dan tanah secara optimal 

Iklim

Kelapa tumbuh di kawasan beriklim tropis antara 23 Lintang Utara dan 23 Lintang Selatan. Faktor iklim yang dibahas adalah suhu, curah hujan, intensitas cahaya dan angin. Suhu rata-rata tahunan yang optimum untuk pertumbuhan yang terbaik dan hasil yang maksimum adalah pada suhu sekitar 27 C, dengan suatu kisaran harian 6 – 7 C. Pada suhu yang rendah abnormalitas pembungaan dan pembuahan bisa terjadi. Di Florida pada 25 Lintang Utara, tanaman-tanaman palma berhenti tumbuh atau mati pada musim dingin yang luar biasa beratnya. Selain itu suhu menentukan sampai ketinggian berapa dari permukaan laut (altitude) tanaman kelapa bisa tumbuh. Di negara bagian Mysore, India kelapa ditemukan pada 600 – 900 m dpl, Sri Langka sampai ketinggian 750 m. Di Tabora, Tanzania, tidak jauh dari khatulistiwa, perkebunan yang produktif dijumpai pada ketinggian 1 300 m. Di Indonesia secara ekonomis kelapa ditanam di daerah dengan ketinggian kurang dari 400 m dpl. 

Penyebaran curah hujan yang merata merupakan faktor yang paling yang berpengaruh pada hasil. Kelapa merupakan tanaman yang menghasilkan sepanjang tahun dan buah kelapa memerlukan waktu setahun dari penyerbukan sampai masak, maka secara ideal pohon kelapa sebaiknya tidak pernah mengalami stress air yang berat. Total curah hujan tahunan optimum adalah 1300 sampai 2 500 mm per tahun, meskipun demikian kelapa akan mentolerir curah hujan yang lebih tinggi selama dibantu dengan drainase yang baik. Penyebaran curah hujan tahunan yang tidak merata bisa diimbangi oleh kondisi-kondisi lingkungan khusus misalnya di tempat terjadinya perembesan air tanah di tempat pertanaman dan daerah pantai, dimana pertanaman disokong oleh permukaan yang landai dan laguna (tadah hujan). Oleh karena itu hasil kelapa tertinggi telah ditemukan pada kondisi-kondisi lingkungan yang khusus tersebut. 

Tanaman kelapa adalah suatu spesies tanaman yang memerlukan cahaya dan tidak tumbuh dengan baik dibawah naungan atau keadaan yang sangat berawan. Sering ditemui gejala etiolasi pada pohon yang tumbuh dibawah naungan pohon yang tua. Di Afrika Barat hasil kopra berhubungan dengan lamanya penyinaran matahari harian selama periode pemasakan buah yang terakhir. Dengan penyinaran matahari yang cerah yang kurang dari 2000 jam per tahun atau 120 jam per bulan, sebagaimana diukur oleh suatu pencatat Campbell-Stokes, maka hasil menjadi menurun (Ziller, 1960). 

Tanaman kelapa di daerah pantai di beberapa bagian dunia mudah terserang angin topan (hurricane) atau angin “cyclone. Karena habitat kelapa yang dekat taut maka kelapa sering dihubungkan dengan daerah pantai kepulauan tropis, sehingga terdapat suatu konsepsi yang salah (misconception) bahwa tanaman kelapa tidak akan tumbuh di pedalaman. Kondisi di dekat pantai mungkin sering ideal untuk pertumbuhan kelapa, tetapi kelapa akan tumbuh subur pada beratus-ratus kilometer ke pedalaman, sejauh kondisi-kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhan tersedia cukup. 

Evapotranspirasi dan Keseimbangan Air Fisiologis Kelapa

Kelapa mudah layu pada lingkungan yang kering karena beberapa faktor, yaitu 
1. Ukuran daun tajuk kelapa hampir selalu tetap sama seumur hidup tanaman sehingga besarnya transpirasi dalam suatu atmosfer konstan serta suhu, kelembaban, dan pergerakan udaranya bervariasi hanya sedikit pada seluruh tahap pertumbuhan 
2. Tarikan ke bawah (bobot) air di dalam “conducting elements” semakin bertambah dengan semakin tuanya pohon, yakni dengan panjangnya batang atau tingginya pohon. 
3. Resistensi gesekan terhadap pergerakan air ke atas dalam “conducting elements” semakin bertambah dengan semakin tingginya pohon (tracheid-tracheid mempunyai diameter yang sempit). 
4. Seluruh daya isap cenderung menarik air dari sel-sel daun karena faktor (1) dan (2), ditambah dengan yang disebabkan oleh koloid-koloid tanah sewaktu tanah mengering. 

Fluktuasi permukaan air tanah membatasi perkembangan akar dalam fase-fase drainase yang buruk pada tipe-tipe tanah tertentu mengakibatkan akar-akar tanaman kelapa mati karena kekurangan oksigen. Konsekuensinya kelayuan terjadi jauh lebih awal (pada pohon berumur kurang dari 20 tahun) pada tanaman kelapa yang tumbuh pada tanah yang mempunyai ruang perakaran yang terbatas untuk menopang pohon yang memang mempunyai sistem perakaran yang kecil daripada pohon-pohon yang lebih tua pada tanah yang mempunyai sistem perakaran yang besar. Jadi, umur dan tingginya tanaman sewaktu tanaman kelapa mati layu akan memberikan suatu ukuran secara umum tentang keringnya (ariditas) lingkungan, khususnya yang diakibatkan keadaan tanah yang merugikan (hubungan air yang tidak baik) seperti drainase yang jelek dan tingginya permukaan air tanah penyebab terjadinya kekeringan fisiologis. 

Tanah

Tanaman kelapa dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah meskipun hasilnya bervariasi sekali pada tanah yang berbeda. 
1. Tanah Alluvial : Sebagian besar tanah pertanaman kelapa yang paling baik adalah endapan alluvial yang kaya, yang dibawa sungai, selama drainase tanahnya cukup baik. 
2. Tanah Laterit : Di Sri Langka dan India daerah pertanaman yang luas ditemukan pada tanah-tanah yang berasal dari bahan induk yang mengandung besi tinggi, mulai dari tanah berbatu laterit seperti bata keras hingga tanah lempung merah 
3. Tanah Vulkanik : Tanah-tanah yang berasal dari abu gunung api dan “tuff” sangat subur. Bahan induk melapuk dengan cepat melepaskan cukup suplai hara mineral untuk tanaman dan bersifat drainase yang baik. Tanah-tanah yang demikian lazim ditemukan pada perkebunan-perkebunan kelapa di Indonesia, Filipina, dan Papua Nugini. 
4. Tanah Liat : Tanah jenis ini merupakan tanah yang paling sukar dikelola secara efisien untuk pertanaman kelapa. Drainase yang baik adalah esensial dan walaupun demikian tanah-tanah ini cenderung tergenang air (water logged) dalam musim hujan dan mengering keras dan pecah-pecah dalam musim kemarau 

Sifat-sifat Fisik Tanah 

Kelapa dapat tumbuh pada tanah yang hampir mengandung 100 persen pasir murni, kemudian tanah dengan fraksi liat yang semakin besar bisa mencapai 70 persen, hingga tanah gambut dengan kandungan bahan organik lebih dari 80 persen. Sifat fisik tanah yang terpenting seperti yang telah disampaikan diatas adalah drainase yang baik karena perakaran tanaman kelapa tidak tahan (toleran) terendam air (water logging) cukup lama. Disamping dengan drainase yang baik, penting juga adanya tanah yang cukup dalam untuk perakaran 

Sifat-sifat Kimia Tanah

Kelapa akan tumbuh pada pasir yang analisis kimianya menunjukkan sedikit atau tanpa kandungan hara. Tetapi analisis bisa berguna pada tanah alluvial atau liat untuk mencari kemungkinan defisiensi dalam hal kalium atau fosfat. Tanaman kelapa toleran pada selang pH yang luas, dari pasir yang berasal dari koral dengan pH 8 turun sampai liat masam pada pH 5, atau bahkan kurang.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Ekologi Tanaman Kelapa"

Post a Comment